Karya : Lexhaa Pramitha
Palembang, 13 November 2015
KAULAH BIDADARIKU
Panasnya di siang ini seakan membakar kulit. Masih sibuk dengan pelajaran yang tak ada hentinya, Mita adalah cewek berparaskan cantik, namun disisi lain ia juga terlihat amat cakep sih... Dengan potongan rambut pendeknya seperti laki-laki dan amat terlihat seperti laki-laki. Mita mempunyai sahabat yang sebangku dengannya, namanya Vira. Mereka bersahabat sejak masuk sekolah, selalu bersama.
Bel istirahat sudah berbunyi dan waktunya ke kantin nih. Vira mengajak Mita untuk makan di kantin. Mita tetap tak bergeming. "gimana ya caranya dapetin Niko, dan buat dia suka sama aku, Vir?" sahut Mita dengan muka yang amat sedih dan berharap. "hmm, gimana ya mit? secara diakan cakep, pemain basket dan cewek mana sih yang nggak mau sama dia. Tapi aku yakin Mit, Niko akan suka sama kamu, kamu kan baik Mit", mencoba menguatkan Mita dan mengajak Mita makan bakso kesukaannya di kantin.
"astagaaaaaa... hp aku ketinggalan di laci nih, Vir aku ke kelas dulu ya".
"ahh kau ini bikin kaget aja, ya udah jangan lama-lama ya"
Beberapa langkah masuk ke kelas, Mita mengambil handphonnyadi laci, dan dia melihat ada kertas selembar berlipat "siapa nih yang naruh kertas di laciku? isinya apa ya?" dengan penasaran Mita membuka perlahan kertas itu, isinya "jika kamu menyukai orang itu, nyatakanlah apa yang kamu rasakan. Berdirilah ditengah lapangan basket dan tunggulah sampai sepi dan hanya ada satu orang". Denga amat penasaran Mita keluar kelas dan memandang ke arah lapangan basket. Hatinya berkata "apa benar?", di hatinya dan pikirannya hanya Niko, cowok yang Mita kagumi.
Jalan perlahan ke arah lapangan basket. Hati yang berdebar menunggu lapangan sepi dan tersisa satu orang. Oh... ternyata, hanya ada satu orang yaitu Niko yang sedang memainkan bakset. menguatkan hati dan mencoba mendekati Niko, "Nik," tatapan Mita dengan jantung berdebar. "iya" sahut Niko dengan wajah yang terkejut, "ada apa?" Niko bertanya heran. Menahan gugup yang mendera, "hmm... begini Nik, sebenarnya aku kagum sama kamu dari dulu dan aku suka sama kamu Nik", tertunduk malu.
Niko tersenyum sinis, "hei, teman-teman kesinilah, lihatlah cewek ini... dia bilang suka sama aku. Lucu banget kan temen-temen?" dengan songongnya ia berkata demikian.
"eh, lu nyadar nggak? gue mana mungkin suka sama lu Mit, lu ngaca nggak diri lu gimana? ntar disangka gue suka sama cowok, secara gue cakep, anak basket terkeren di sekolah ini, gua mana level sama cewek tomboy kayak lu" dengan lantang kata-kata itu diucapkannya, dan semua anak-anak di sekolah itu mentertawakan Mita.
Air mata jatuh dan membasahi pipi Mita. tersedu-sedu Mita menahan sakit hatinya, lari dari lapangan basket itu pilihan terbaik. Malu dan kecewa Mita berlari kekelas dan memeluk Vira.
"kenapa kamu lakukan itu Mit? kenapa?!"
"aku lakukan semua itu sesuai dari isi kertas ini, tapi aku nggak tau siapa yang menaruhnya di laciku Vir"
Lalu Vira membaca surat itu, "astagaaa, Mit ini jebakan, kenapa kamu nggak bilang sama aku? sekarang apa? semua anak-anak nertawain kamu Mit". Perasaan Vira yang kesal dan kecewa pada Mita, "maafin aku Vir, tapi aku pengen Niko jadi milikku Vir" ujar Mita dengan memeluk Vira.
"Niko bener-bener keterlaluan, mentang-mentang dia anak basket, cakep, tinggi, putih, trus semua cewek suka sama dia, dia bisa seenaknya ngelakuin ini ke kamu Mit? harus aku kasih pelajaran!!" ucap Vira dengan geram.
"udahlah Vir, nggak usah nanti tambah banyak masalah" kata Mita yang tetap menangis.
Teeeeeeett...bel tanda istirahat selesai dan mulai belajar kembali berdering. Semua anak-anak di dala kelas menggunjingkan Mita, dan salah satu teman sekelasnya bilang "kesian banget sih kamu Mit? mangkanya sadar diri!" "eh bisa jaga nggak omongan kamu? sok cantik lu!" kata Vira jengkel dan membela Mita.
"udahlah Mit, nggak usah dengerin dia" menatap Mita yang tetap diam. Pelajaran pun tetap dimulai dengan tertib.
"pulang-pulang...akhirnya huuft" nada lega oleh Vira. Dengan pandangan aneh yang melihat Mita yang bur-buru memasukkan bukunya ke tas dan "eh...tunggu Mit, kok duluan?" tanpa menoleh ke arah Vira, Mita berjalan keluar kelas dan meninggalkan ruangan yang tampak masih ramai. Vira segera mengirimkam pesan singkat ke Mita. Getaran yang berirama dari saku Mita terasa,"hati-hati di jalan y Mit" pesan dari Vira, "oke" balasan Mita.
Ting..tong, "kamu sudah pulang nak?" kata mamanya Mita. "mana papa ma? Mita mau bicara dengan kalian" jawab Mita tegas. "ada kok, di ruang tengah" timbul perasaan di benak mamanya Mita. "pa, ma... Mita mau pindah sekolah" "lah, kenapa memangnya mau pindah? kata papanya Mita heran. "iya ada apa Mit? ada masalah? sambung mama.
Mita pun menceritakan permasalahannya yang terjadi di hari itu. Mita sangat terpukul dan tak bisa menahan air matanya di depan orangtuanya. Setelah mendengar suma apa yang di ceritakan Mita, mau tidak mau menuruti apa kehendak anaknya itu. "boleh, dua minggu lagi gimana?" tanya papa kepada Mita. "iya, pa makasih" jawab Mita dengan lantang.
Di lantai dua rumah Mita tampak jendela yang terbuka. Malam yang sepi dan hanya angin keluarmasuk jendela dengan seenaknya. Mita yang berpenampilan ala rocker dan kamarnya yang berhias foto-foto band kesukaannya, duduk di jendela kamarnya. hanya bintang yang silih berganti menampakkan cahanya. Mita menatap salah satu bintang yang paling terang, berkata...
"apa aku tak pantas mendapatkannya? dengan keadaanku seperti ini? apakah akubodoh?tuhan... aku mencintainya"
Mata yang terpejam, hingga tak dapat membendung air mata, Mita menangis dengan pilu, dan berlari ke atas tempat tidur, tangisan hingga terlelap keesokan harinya. "hai Mit? apa kabar? tanya Vira. "baik kok Vir" dengan senyuman termanis. "Vir aku mau kasih tau kalo dua minggu lagi aku pindah sekolah ke Jakarta, aku pasti kangen sama kamu, tapi aku harus pindah Vir, maaf ya". "aku tau alasanmu kenapa kamu mau pindah dari sekolah ini, aku juga akan kangen kamu Mit, kalo ada waktu main kesini ya Mit" Vira memeluk Mita dengan erat.
***
Selamat datang Jakarta... cerahnya pagi yang tak ada duanya. Pertama di Jakarta dan pertama masuk sekolah pilihanku. Mita bertemu dengan laki-laki manis berlesung pipit,"maaf kak, kalo kelas XI IPA di sebelah mana ya? tanya Mita, "oh, lurus aja dari jalan ini terus belok ke kanan, ada tangga naik aja, kelasnya kelasnya di samping tangga itu" jawabnya, "ok, makasih ya"
Berjalan menaiki tangga dan selamat datang kelas yang baru. Tak lama bel masuk terdengar, tiba-tiba di belakang ada wanita berparas cantik dan rapi, "selamat pagi, kamu anak baru itukan? kenapa tidak masuk kelas? ikut ibu masuk dan perkenalkan diri kamu!" kata ibu guru dengan lembut.
"pagi anak-anak, kelas kita ada murid baru, silahkan" suruh ibu guru itu.
"hmm, perkenalkan nama aku Mita, aku pindahan dari Bogor, salam kenal ya semua"
"Mita duduk di sana!"
Pelajaran pagi itu segera dimulai. Mita yang sebangku dengan Ega Santika, yang akrab disapa Ega itu "kenalin, gua Ega.. salam kenal" dengan gaya coolnya. Tak heran, karena ega adalah cewek tomboy sama seperti Mita, "iya" kata Mita menjawab sapaan Ega.
"udah istirahat nih, cari makan yok," ajak Egakepada Mita.
"nggak ah, aku ngga lapar, kamu ajalah" kata Mita sambil tersenyum.
"hm, lu ini payah.. oia napa lu pindah?ada masalah ya di tempat sekolah lu dulu?"tanya heran
"iya, ada masalah", jawab Mita agak sedih.
"masalah apaan? cerita aja sama gua" balas ega yang pengen tahu.
Akhirnya Mita menceritakan semuanya ke Ega. Ega pun iba dan kesal "kenapa lu lakuin itu? dan kenapa mikirin cowok yang jelas-jelas kasar kayak gitu? cowok tuh emang kayak gitu Mit, mending kayak gua jalani hubungan dengan cewek, lu itu cakep Mit... lu bisa dapetin cewek yang lu taksir, dari pada lu sama cowok, pikirinkata-kata gua Mit!" ujar Ega sembari meninggalkan kelas untuk ke kantin. Mita terdiam dan seolah tak percaya "apa??? pacaran sama cewek???" bertanya-tanya dalam hati. Tak lama ega muncul lagi "eh kenapa bengong lu?" tanyan Ega, "akumasih nggak percaya kalo kamu itu..." pertanyaan Mita yang terhenti.
"kalo gua itu suka sama cewek ya, itu kn yang mau lu tanya? lu nggak usah heran Mit, di sekolah ini rata-rata ceweknya pacaran sama cewek" tegas Ega.
"ah gila lu, mana mungkin" Mita membantah.
"gua serius Mit, buat ap gua bohong, pacar gua sekolah di sini juga kok namanya Mia, udahlah lu nggak usah syok gitu", "Ega aku ke toilet dulu ya" kata Mita.
Saat Mita mau berbelok ke arah kanan, tiba-tiba... Braaaak, "aduh, hati-hati dong kalo jalan" kata cewek yan ditabrak Mita, "aduh, maaf, maaf banget ya, aku nggak sengaja ada yang sakit? atau apa gitu?", tanya Mita dengan rasa bersalah. Mita melihat bet nama yang menempel pada baju cewe itu. "maaf ya, aku buru-buru" dan Mita pun meninggalkan cewek itu ke toilet, dari toilet pun Mita ke kelas lagi sambil menepuk pundak Ega.
"eh, tadi pas aku mau ke toilet aku nabrak cewek noh... ya aku minta maaf sama tu cewek, kalo ngga salah namanya Tasya Sellia Putri, ia itu namanya,tapi aneh tau Ga, masa aku minta maaf, dia bengong aja... tatapannya aneh" aduan Mita.
"haduh lu ini Mit..Mit...asal lu tau ya Tasya itu sama kayak gua, suka kali sama lu, lu kan cakep Mit" kata Ega.
"ah lu ada-ada aja" elak Mita.
Besoknya Mita gelisah karena PR nya belum dikerjakan, pikiran Mita pasti Ega sudah mengerjakan PR... Maklumlah gurunya agak sedikit killer.
"naah...itu dia tuh anak" ucap Mita.
"eh Mit sini" ajak Ega
"emang aku mau kesini, aku lihat PR mu dong aku belom nih!" dengan nada memaksa.
"sabar aja dongse... gurunya nggak datang hari ini, eh... kenalin nih Tasya yang lu tabrak kemaren Mit, Sya kenalin ni Mita temen gua, dia anak baru pindahan dari Bogor"
"kenalin aku tasya" dengan lembutnya
"aku Mit,maaf ya yang kemarin aku nggak sengaja"
Tiba-tiba jantung Mita berdetak kencang, dalam fikirannya "kenapa aku begini?" bagaimana tidak, jika memandang tasya selalu begini... Tasya begitu cantik, putih, rambut hitam panjang terurai, matanya indah, bibirnya tipis memerah. "ah gila aku ini kenapa?" ocehan dalam hati.
Seminggu setelah kejadian itu Mita jujur kepada Ega bahwa Mita mencintai Tasya...entah kenapa Tasya selalu terbayang wajah cantik Tasya dan selalu salah tingkah dihadapan Tasya. "tembak di Mit, sekarang..." tegas Ega. Dengan menguatkan hati, Mita segera menemui Tasya yang sedang membaca buku di taman sekolah. "hai sya...ganggu nggak nih?" tanya Mita
"nggak kok Mit," dengaj wajah memerah
"langsung aja ya sya...aku mau ngomong sama kamu kalo aku...aku...aku hem", "kalo aku apa Mit?", "kalo aku sebenernya suka sama kamu sya, entahlah rasa itu tiba-tiba muncul, maaf udah bilang ini" tertunduk malu.
"maaf? kamu nggak salah karena apayang kamu rasakan, aku pun merasakannya Mit.." "hah, serius nih?" ujar Mita kaget.
Rasa bahagia terpancar dari tatapannya untuk Tasya, jemari Mita menggenggam tangan Tasya dengan erat. saling menatap penuh cinta... dekapan lembut Mita membuat Tasya berlinang air mata, satu kecupan manis di dahi Tasya. "maukah kamu menjadi permaisuruku sya?" Mita bertanya, "mau Mit". Saling tersenyum..."aku sayang kamu sya" ucapan Mita dengan pelukan hangat. Saling mencinta, canda tawa hiasi hari-hari mereka. Saat malam minggu mereka bertemu di taman, kebetulan malam itu terang bulan. Duduk berdua... kepala Tasya disenderkan ke bahu Mita dengan manja.
"Mit...apa kita akan selalu bersama?" tanya Tasya dengan tatapan sedih.
"ia, akan dan pasti selalu bersama sya"
"aku takut Mit, jika nanti kita berpisah"
"jangan bicara kayak gitu sya, aku akan selalu bersamamu sayang"
Menatap dan tersenyumlah keduanya...malam yang indah, sungguh...
"Mit, coba lihat bulan itu, andai setiap orang tau ada apa di balik bulan itu, pasti pasti tak ada satu orang pun yang berbohong", "sya kamu aneh..." langsung mencium kening Tasya.
Sungguh malam yang indah... belum rasakan ini semua. Terhanyut dalam kisah cintaterlarang yang menggila. Jlaani hari-hari bersama suka dan duka... tawa canda selalu bersama. Rasa yang tumbuh bergulirnya waktu semakin bertambah. janji-janji indah terucap selalu, mearnai setiap hal yang terjadi.
Setelah sebelas bulan menjalin kasih, tampaknya Mita merasakan perubahan sikap Tasya yang sering menghindar dan seakan ada yang ditutupi oleh Tasya. Bertanya-tanya, ada apa dengan gadis pujaannya?. Ega mengatakan bahwa Tasya mempunyai pacar selain Mita, karena Tasya sendiri yang bilang ke Ega. Seperti disambar petir, pikiran Mita tak tentu arah.
Meski begitu, Mita tak pernah marah kepada Tasya, ia sabar dan menunjukkan rasa sayangnya itu, walau tasya takmenggubrisnya lagi. Suatu saat Mita gelisah akan pikirannya tentang Tasya ia mencoba kekelas Tasya untuk memastikan Tasya baik-baik saja. Tasya tak nampak di kelas itu saat bertanya kepada teman Tasya kenapa tasya tidak ada, ternyata tidakmasuk sekolah. Masuk ke kelas dengan wajah lemas dan lesu. "woi...napa lu Mit?" Ega mengagetkan. "Tasya ga...Tasyanggak masuk sekolah aku kepikiran sama dia, aku kangen tasya ga" ucap Mita lesu. "oh ia Mit, kemaren Tasya nitipin ini ke gua, katanya buat lu Mit, nih" Ega memberikan surat itu ke Mita.
Esoknya Mita nyamperin Tasya di kelasnya."sayang aku mau ngomong sama kamu" kata Mita. "ada apa Mit?" sok cuek, "kamu kenapa berubah ngindarin aku sya?aku ada salah ya?kalo iya aku minta maaf sya... aku kurang apa sama kamu sya, aku tulus dan setia sama kamu, kamu selingkuhin aku, aku sabar nahan semuanya jawab sya jawaaab..."
"maafin aku Mit, aku nggak bermaksud selingkuhin kamu, kamu terlalu baik untuk aku, mending kamu cari cewek lain aja yang bisa bahagiain kamu, aku bukan yang terbaik buat kamu Mit. Tinggalin aku Mit pliis..."
Dengan berlinangnya air mata Tasya mengucapkan itu semua. "baik aku akan pergi sya". beberapa hari mereka tak terlihat bersama, rasa rindu terhadap Tasya semakin besar. Ketika Mita sedang bermain futsal tiba-tiba ia teringat akan surat yang dititipkan Tasya ke Ega. Mita segera mencari surat itu di dalam tas sekolah. Dengan rasa penasaran Mita membuka perlahan surat itu...
*untuk sayangku Mita, maafkanlah aku atas perlakuan ku pada mu... aku tak bermaksud menyakiti hatimu, melukai hatimu... aku lakuin ini semua agar kamu benci sama aku Mit, agar nanti jika aku sudah tidak ada lagi, kamu bisa tanpa aku. karena aku nggak bisa berada di samping kamu terus menerus Mit, aku mengidap Leukimia stadium akhir...aku bohong dan mengarang cerita jika aku selingkuh, Mit. Sekali lagi aku minta maaf padamu, aku sayang kamu Mita...*
Jatuh terduduk di lapangan futsal, tak tau harus bagaimana, menangis yang hanya dapat dilakukan. "kenapa sya, kenapa kamu nggak pernah jujur sama aku kalo kamu sakit", rintihan Mita begitu pilu, ia langsung mendatangi kediaman Tasya. Mita melihat ada tenda dan kursi berjejer rapi, suasananya ramai. Mita bertanya kepada wanita paruh baya yang hendak ke tempat ramai itu.
"maaf , bu di rumah pak Herman ada apa ya kok rame banget?" tanya Mitadengan heran.
"oh itu, anaknya bapak Herman meninggal" lugas wanita paruh baya itu
Dengan rasa tak percaya dan sekujur tubuh gemetaran berjalan dan memasuki sebuah ruangan. nyaringnya lantunan ayat kursi membuat suasana semakin pilu...saat Mita menatap seseorang yang terbaring di atas kasur dan berbalut kain seluruh tubuh. Dekat makin dekat, cucuran air mata semakin deras. Membuka kain penutup wajah si cantik dengan perlahan.
"maafin aku sya maafin aku...seharusnya aku tau apa yang terjadi sama kamu sya, sya bangun, kenapa kamutega tinggalin aku.. Tasyaaaaaaaaa" jeritan Mita lirih. Kini surat itu berbingkai dan terpajang di meja kamar Mita. Mita menatap bingkaian itu dan mengatakan...
"Tasya, kamu wanita pertamaku, kamu yang membuatku menggila, kamu pencuri hati ini, kamu bidadariku, kau permaisuriku, kau peri kecilku, kau segalanya sya... walaupun kamu pergi aku yakin kau selalu di sampingku dan selalu di hatiku sya. Kau kekal di benakku, abadi di dalam kalbu ku. Sya tunggu aku di surga ya sayang, aku mencintaimu tasya..."
Kejadian itu membuat Mita menjadi cewek yang lebih pendiam. Mita terdiam ketika ia duduk di taman, di mana malam itu pernah bersama Tasya. "harusnya kamu ada di sinisya nemenin aku..sya, apa kamu lihat aku di sini dari surga?" tanya Mita dan berangan-angan.
"sya aku kangen kamu, aku ingin memelukmu seperti dulu,mencium keningmu seperti waktu itu, aku kangen dengan tatapanmu dan senyummu sya..."
Linangan air mata itu deras mengalir dari mata yang sayup-sayup menatap bulan. Mita teringat sesuatu...
"astagaaaa...apa ini semua jawaban dari apa yang di katakan Tasya waktu itu...andai setiap orang tau ada apa di balik bulan itu, pasti pasti tak ada satu orang pun yang berbohong. Ya tuhan, kenapa aku tak pernah menyadari semua ini, bodohnya aku tuhan...maafkan aku sya"
Sejak saat itu Mita tak pernah terlihat menggandeng seorang wanita.
_THE END_